Posted by: gunuk | 20/09/2011

Perusakan Patung di Purwakarta

ilustrasi

Patung Gatot Kaca, Bima dan Semar dirobohkan di Purwakarta. Massa beratribut Islam itu menanggap patung-patung itu sebagai simbol berhala. Kelompok yang mengatasnamakan Masyarakat Peduli Purwakarta (MPP) itu menganggap Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi keras kepala karena mendirikan patung di tengah penolakan kelompok Islam.
“Kota Purwakarta sebagai kota santri tak pantas dijejali berhala. Ajaran Islam dengan tegas menyebutkan bahwa berhala merupakan simbol kemusyrikan. Karenanya harus dimusnahkan,” kata seorang massa yang merusak patung. Sebelum aksi perusakan dilakukan massa mengadakan halal bihalal dan istighotsah di Masjid Agung Purwakarta, Minggu siang, (18/9).

Kelompok bertribut Islam, bukan kali ini saja merusak simbol-simbol kebudayaan. Pada Oktober 2010 kelompok yang menamakan diri Laskar Jihad Sukoharjo membubarkan pentas wayang kulit yang digelar di Desa Sembung Wetan di Sukoharjo.
Apa yang terjadi dengan negeri ini? Tidakkah kelompok di Purwakarta dan Sukoharjo di sisi selatan Surakarta itu mengetahui kalau batik, keris dan wayang mendapatkan sertifikat dari Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Wayang, juga batik dan keris dianggap sebagai warisan budaya dunia yang harus dipertahankan.
Apakah kelompok perusak itu juga tidak sadar bahwa ajaran Islam di tanah Jawa yang dibawa oleh Wali Songo justru menjadikan wayang sebagai wahana menyampaikan ajaran agama. Wali Songo tidak berusaha merobohkan kebudayaan lama tapi justru mengikuti alir kebudayaan dan secara perlahan-lahan mennyusupkan dan menyisipkan nilai baru. Sunan Kalijaga yang melakukan itu. Contoh lainnya, Sunan Kudus membiarkan warga Kudus yang enggan makan daging sapi. Sapi dalam ajaran Hindu adalah binatang suci. Tak heran Soto Kudus memakai daging kerbau. Itulah kearifan keduanya. Apakah dengan sikap yang demikian, lalu keduanya kita anggap tidak berprinsip dan tidak berakidah yang kokoh? Bukan di situ letak akar persoalannya.
Apalagi peristiwa perobohan dan pembakaran patung di Purwakarta dilatari konflik politik antara kelompok Islam dengan bupati Purwakarta yang sudah meruncing beberapa bulan lalu. Jika benar demikian, konflik politik justru mengorbankan kebudayaan adiluhung yang selama ratusan tahun bisa menjadi sarana membangun dan menyebarkan kearifan.
Di sisi lain, pembangunan patung dan land mark kota lainnya yang dibuat dengan dana cukup besar di tengah kondisi masyarakat yang sedang susah juga kurang tepat. Gagasan melindungi kebudayaan bisa dengan mudah digempur oleh lawan politik yang menuduh sebagai pemborosan. Apakah ini benar pemborosan? Atau hanya alasan yang dibuat agar seakan-akan populis. Padahal tujuan aslinya menggerus kekuasaan bupati?
Sungguh sangat disesalkan konflik politik telah menyeret dan membunuh kebudayaan. Tidakkah para perusuh yang merobohkan patung dan membakarnya itu bisa kita anggap telah menghancurkan kebudayaan Indonesia? Budaya wayang telah lahir secara turun temurun, jauh sebelum Islam masuk di tanah Jawa. Indonesia bukanlah India, Eropa atau Arab. Negeri ini punya keragaman bahasa, budaya. Semua itu telah membentuk harmoni Indonesia.
Perobohan, pembakaran patung dan pembubaran paksa pentas wayang selain mengancam kebudayaan juga mengalienasi kebudayaan dari masyarakat. Para perusuh yang menganggap wayang sebagai berhala adalah kelompok picik dan menyederhanakan masalah. Sementara mereka justru bersikap permissif atas bantuan uang dari sejumlah politisi yang sudah diketahui menggarong uang rakyat. Robohnya patung bukan sekedar robohnya benda, tapi juga robohnya kemanusiaan dan akal sehat.
Kepolisian Puwakarta Jawa Barat memeriksa 20 orang sebagai saksi dalam kasus perusakan patung-patung pewayangan. Kepala Kepolisian Surakarta Bahtiar Ujang menjelaskan, mereka yang diperiksa adalah masyarakat sekitar, para saksi di tempat kejadian dan orang-orang yang diduga melakukan perusakan.Hasil pemeriksaan sudah mengarah pada penetapan tersangka.

“Dalam pemeriksaan ini kami telah mengidentifikasi orang-orang yang diduga sebagai tersangka. Namun kami masih memeriksa saksi-saki untuk memperkuat dugaan kami tadi. Pemerikasaan juga didukung rekaman elektronik untuk mengidentifiksi pelaku yang ada di situ.

Kepala kepolisian Surakarta Bahtiar Ujang membenarkan perobohan dan pembakaran empat patung wayang yang dilakukan kemarin, dilatarbelakangi pemahaman sekelompok orang yang salah. Kelompok ini mengatakan pendirian patung sebagai berhala yang harus dimusnahkan. Mereka menganggap patung-patung tersebut tidak mencerminkan sikap masyarakat Purwakarta yang diklaim religius. Tindakan ini dikecam banyak pihak, karena patung merupakan benda seni dan bukan untuk disembah. Selain itu dalam sejarah, salah satu media penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan seni pewayangan.

Hari Minggu (18/9) kemarin, terjadi perobohan dan pembakaran empat patung wayang oleh sekelompok massa di Purwakarta. Dalihnya, seperti beberapa kejadian serupa di daerah lain, adalah demi menjauhkan masyarakat dari kesesatan atau penyembahan berhala. Patung-patung wayang golek yang merupakan khas Purwakarta itu dianggap sebagai berhala yang dapat mengganggu keimanan warga.

Sebenarnya setelah empat patung tersebut, massa akan merubuhkan patung yang lainnya (Nakula Sadewa), namun dicegah oleh aparat keamanan. Mereka pun akhirnya membubarkan diri setelah turun hujan. Keempat patung yang telah dirobohkan dan dibakar itu adalah patung Gatotkaca, Semar, Bima, dan patung Selamat Datang.

Aksi vandalisme itu terjadi setelah acara halalbihalal dan istigotshah yang diadakan di Masjid Agung. Polisi berjanji akan memanggil panitia dan mengusut apa yang menyebabkan aksi massa peserta acara tersebut.

Saya tidak tahu seberapa jauh penurunan kualitas Kepolisian paska pemisahannya dengan TNI dan juga paska Reformasi, tapi yang jelas, pihak Kepolisian sebagai perpanjangan tangan Negara untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat terbukti telah lalai dan gagal bertindak cepat, apalagi antisipatif. Ini adalah penerapan “asas praduga tak bersalah” saya terhadap Kepolisian, bahwa mereka tidak ikut serta dalam skenario perusakan patung-patung tersebut.

Dengan terjadinya perusakan—tidak hanya satu, melainkan empat—patung yang ada di Purwakarta itu, menunjukkan kegagalan Negara, yang dalam hal ini diwakili oleh Kepolisian selaku aparaturnya yang bertanggung jawab di bidang keamanan, dalam hal pelaksanaan amanat Undang-undang Dasar 1945, khususnya pasal 32 ayat (1).

Dalam pasal tersebut jelas tertera, “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Kata-kata yang saya cetak tebal menunjukkan dengan gamblang bahwa Negara semestinya menjamin kebebasan warganya untuk, tidak hanya memelihara, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Wayang golek adalah salah satu warisan budaya bangsa, dan pendirian patung-patung tersebut, merupakan salah satu upaya untuk memelihara warisan budaya yang telah ada sejak jaman dahulu. Sepanjang sejarah pewayangan, tidak ada satu wayang pun yang saya ketahui dipuja dan disembah sedemikian rupa sebagai berhala atau hal-hal klenik yang dipercaya akan mendatangkan keberuntungan bagi pemiliknya. Apalagi kini kita berada di jaman modern, di mana penyembahan patung sudah terkikis habis. Apa yang dilakukan massa tersebut, pada dasarnya salah jaman.

Nah, jika para seniman patung atau pihak-pihak yang peduli budaya kemudian tidak mendapat jaminan untuk mengekspresikan nilai-nilai budayanya, siapakah yang patut bertanggung jawab? Tentu saja aparat keamanan! Kepolisian punya lebih dari cukup personil untuk melakukan tindakan-tindakan pengamanan, dan masih juga gagal untuk mencegah aksi massa yang marah-marah sepulang istigotsah. Tidak adakah personil Kepolisian yang “memantau” pelaksanaan acara akbar yang diadakan di Masjid Agung tersebut? Di manakah para “serse” dan “intel”? Apakah mereka libur karena hari Minggu?

Jika respon atau tindak lanjut pihak Kepolisian hanya akan memanggil panitia dan mencari tahu mengapa aksi vandalisme itu bisa terjadi, kita sudah hampir tahu ujung perkara ini: pendiaman. Dan, jika memang benar nantinya terjadi pendiaman, maka bukan tidak mungkin aksi serupa akan menyebar di berbagai daerah lain, khususnya yang berlabel “Kota Santri” sebagaimana tersirat dari pendapat salah satu pelaku, “Kota Purwakarta sebagai kota santri tak pantas dijejali berhala. Ajaran Islam dengan tegas menyebutkan bahwa berhala merupakan simbol kemusyrikan karenanya harus dimusnahkan.

=======

Dari berbagai sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: