Posted by: gunuk | 08/10/2011

Pencurian Pulsa,Apa Mungkin?

Para pelaku penipuan melalui pesan singkat yang mulai meresahkan masyarakat belakangan ini diduga bekerja sama dengan para pemilik konter ponsel. Pasalnya, para pelaku ini cenderung hanya ingin menyedot pulsa untuk kemudian dijual kembali. Cara atau modus yang dilakukan pun beragam, mulai dari mengirim pesan singkat melalui nomor biasa atau melalui jasa pelayanan SMS premium atau konten.

Tindak Operator yang Membiarkan Sedot Pulsa

“Besar kemungkinan dengan cara menyedot pulsa seperti itu mereka kerja sama dengan konter ponsel. Selama penelusuran kami, setelah mereka menipu, pulsa yang didapat dijual kembali ke penjual pulsa,” ungkap Kasubdit Cyber Crime Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hermawan, Rabu (5/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Dia melanjutkan, modus penipuan yang mampu menyedot pulsa korban itu dilakukan dengan cara mengirimkan pesan singkat melalui nomor GSM atau CDMA secara acak. Isi pesan singkat itu biasanya bertuliskan pengumuman pemenang dengan hadiah tertentu.

“Tetapi, untuk dapat hadiah itu dia harus klik misalnya *123 dan seterusnya. Kalau dia klik itu, korban pasti kaget pulsanya tiba-tiba berkurang banyak,” ucap Hermawan.

Dia menjelaskan, kode angka yang harus diarahkan pelaku untuk diklik para korban sebenarnya adalah kode dari masing-masing operator untuk transfer pulsa ke nomor pelaku dengan nilai nominal pulsa yang juga sudah dimasukkan ke dalam kode itu.

“Jadi, kode itu benar memang ada, tapi untuk transfer pulsa. Korban biasanya gak sadar karena dibilangnya menang hadiah,” kata Hermawan.

Cara lain yang dilakukan dalam menyedot pulsa, diakui Hermawan, adalah dengan berlangganan konten atau SMS dengan tarif premium seperti kuis atau konten games. Dengan cara ini, para pengusaha konten terus-menerus mengirimkan pesan singkat yang menyedot pulsa.

“Misalnya kuis. Dia terus-menerus dikirimi soal, awalnya dia balas dengan jawaban, tapi kelamaan bosen enggak menang-menang sementara pulsa terus kesedot karena dikirimin konten terus,” tuturnya.

Bahkan, masyarakat yang hendak membatalkan langganan konten dengan mengirimkan pesan singkat Unreg justru menemui kegagalan. “Tetapi apakah ini bisa dipidanakan, masih kami dalami. Namun, menurut kami, selama ada laporan dari masyarakat yang merasa dirugikan oleh SMS konten ini bisa kami tindaklanjuti,” ungkap Hermawan.

Dia mengatakan, dua modus itu yang selama ini terdeteksi aparat Cyber Crime Polda Metro Jaya yang marak terjadi dalam penipuan pesan singkat. Dia membantah adanya modus penipuan pesan singkat yang mampu menyedot pulsa secara berlebihan hanya dengan membalas pesan singkat seperti “tolong uangnya ditransfer ke nomor … ” yang dikirim dari nomor GSM atau pun CDMA.

Pemerintah juga diminta lebih ketat mengawasi penawaran-penawaran di telepon seluler. Mereka juga meminta pemerintah berani menindak ”pencuri” pulsa masyarakat.

”Pemotongan pulsa itu menjadi aduan paling banyak sepanjang tahun lalu. Tiba-tiba dapat kiriman layanan konten empat digit, misalnya 97xx, padahal tidak pernah registrasi. Setiap mendapat satu pesan singkat, pulsa dipotong sekitar Rp 2.000. Untuk berhenti juga susah,” ujarnya.

Dia mengaku beberapa temannya turut menjadi korban. Pesan-pesan penawaran konten tersebut menjadi semakin banyak beberapa bulan belakangan ini.

Salah satu contoh dari penawaran konten itu adalah: ”Shanty sedang berduka, karena dirinya msh di Hong Kong saat ayah- nya meninggal. Konten GRATIS, klik http://3cb.biz/6/3fzsoo CS:02127243xxx.”

Untuk menghimpun berbagai modus ”pencurian” pulsa itu, Lisuma akan membuka layanan pengaduan masyarakat di Monas hari Minggu besok.

Sebelumnya, Redaksi YTH Kompas juga menerima surat dari pembaca, yaitu Petrus Purwanto asal Yogyakarta, yang mengeluhkan hal serupa.

Petrus mendapat pesan dari Bonus 34xx. Pesan itu berisi anjuran agar jangan mengisi pulsa dulu sebab mungkin saja mendapat bonus pulsa bernilai Rp 50.000. Untuk itu, disarankan melakukan pengecekan dengan mengetik *500*40#. Promosi ini hanya untuk 40 orang.

Setelah mengecek, langsung muncul pesan yang mengucapkan terima kasih sudah bergabung di komunitas dangdut. Konsekuensinya, Petrus mendapat berita tentang dangdut dan nada dering Rp 2.000 per hari.

Setelah mendapat pesan itu, Petrus baru sadar ternyata bonus itu cuma akal-akalan sebab pada bagian akhir pesan tadi baru disebutkan nada sambung Rp 2.000 per ”hr”.

Peringkat pertama

Menurut Ketua Pelaksana Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo, pada triwulan pertama tahun 2011, pengaduan masalah telekomunikasi menduduki peringkat pertama dari total aduan yang masuk ke YLKI, yakni 28 dari 156 kasus.

Sebagian besar dari aduan masalah telekomunikasi itu adalah pesan yang tak dikehendaki berupa tawaran kredit atau penawaran produk serta berupa konten bisnis.

”Konten bisnis itu, misalnya, penawaran nada dering atau informasi lain semacam zodiak. Pulsa dipotong harian atau bulanan. Seperti nada dering, misalnya, pemotongan pulsa sekitar Rp 5.000 per bulan,” tuturnya.

Kendati terlihat kecil, kata dia, perputaran uang atau potensi pulsa yang ”dicuri” itu cukup besar karena bisnis telekomunikasi memiliki volume besar. Dicontohkan, pada tahun 2010, ada sekitar 180 juta nomor telepon seluler aktif, sedangkan tahun 2011 lebih dari 200 juta nomor.

Tuntut ganti rugi

Kepala Pusat Informasi dan Humas pada Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto menuturkan, regulasi yang mengatur jasa layanan pesan singkat premium sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Jasa Pesan Premium.

”Masyarakat yang dirugikan bisa menuntut ganti rugi kepada operator,” ujar Gatot.

“Walaupun SMS itu maksudnya nipu, tapi kalau kita balas itu nggak mungkin sedot pulsa. Kesedot hanya biaya sms balasannya saja,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, Cyber Crime Direktorat Reserse Polda Metro Jaya menemukan 1.800 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) kelas I Tanjung Gusta, Sumatera Utara, menjadi otak kasus penipuan pesan singkat dan telepon di berbagai daerah. Sebanyak enam orang di antaranya menjadi tersangka dalam kasus yang ditangani Polda Metro Jaya, sementara ada pula yang menjadi buruan FBI.

Para napi itu menyelundupkan ponsel ke dalam sel melalui roti, telur, hingga lipatan baju. Para napi ini diduga melibatkan orang luar dalam memperdaya korbannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: