Posted by: gunuk | 25/11/2011

Otak ALBERT EINSTEIN (1879-1955) Dipamerkan

Albert Einstein, tak salah lagi, seorang ilmuwan terhebat abad ke-20. Cendekiawan tak ada tandingannya sepanjang jaman. Termasuk karena teori “relativitas”-nya. Sebenarnya teori ini merupakan dua teori yang bertautan satu sama lain: teori khusus “relativitas” yang dirumuskannya tahun 1905 dan teori umum “relativitas” yang dirumuskannya tahun 1915, lebih terkenal dengan hukum gaya berat Einstein. Kedua teori ini teramat rumitnya, karena itu bukan tempatnya di sini menjelaskan sebagaimana adanya, namun uraian ala kadarnya tentang soal relativitas khusus ada disinggung sedikit. Pepatah bilang, “semuanya adalah relatif.” Teori Einstein bukanlah sekedar mengunyah-ngunyah ungkapan yang nyaris menjemukan itu. Yang dimaksudkannya adalah suatu pendapat matematik yang pasti tentang kaidah-kaidah ilmiah yang sebetulnya relatif. Hakikatnya, penilaian subyektif terhadap waktu dan ruang tergantung pada si penganut. Sebelum Einstein, umumnya orang senantiasa percaya bahwa dibalik kesan subyektif terdapat ruang dan waktu yang absolut yang bisa diukur dengan peralatan secara obyektif. Teori Einstein menjungkir-balikkan secara revolusioner pemikiran ilmiah dengan cara menolak adanya sang waktu yang absolut.

Otak Albert Einstein, sang genius dan penemu teori relativitas umum, akan dipamerkan di Museum dan Perpustakaan Sejarah Medis Mutter di Philadelphia. Pameran direncanakan akan digelar selama sembilan hari kerja.

Anna Dhody, kurator museum tersebut, mengatakan bahwa pengunjung dapat melihat 45 sayatan otak Einstein dan satu preparat yang diperbesar di bawah lensa pada pameran itu. Ia berharap pameran ini dapat memacu orang berpikir tentang ilmu otak dan fisiologi.

Sejumlah 46 buah bagian otak Einstein itu telah mengalami perjalanan unik. Ini berawal dari kematian Einstein pada 1955 akibat abdominal aneurism. Thomas Harvey, seorang ahli patologi, mengambil otak Einstein sebagai bagian dari standar umum otopsi.

Pengambilan otak Einstein sempat menimbulkan kontroversi. Harvey mengatakan bahwa keluarga Einstein telah memberinya hak, sementara keluarga Einstein membantah hal itu. Harvey dipecat dari pekerjaanya, tetapi tetap menyimpan otak sang genius itu.

Setelah itu, Harvey membuat sayatan dari otak Einstein, kemudian menghibahkannya pada William Ehrich, ahli patologi dari Philadelphia. Setelah Ehrich meninggal, sayatan itu sempat diberikan ke beberapa orang hingga akhirnya masuk ke Mutter.

Dhody mengatakan, salah satu tujuan pameran ini adalah mengizinkan publik melihat bagaimana struktur manusia genius. Ini sekaligus menekankan bahwa hingga saat ini, belum ada satu ilmuwan pun yang tahu apa yang menyebabkan Einstein begitu pintar ditinjau dari otaknya.

Beberapa penelitian menyebutkan keunikan otak Einstein. Salah satunya hasil penelitian Lucy Rorke-Adams dari Rumah Sakit Khusus Anak di Philadelphia. Penelitian menunjukkan bahwa otak Einstein terlihat muda secara mikroskopik.

“Dia meninggal pada usia 76 tahun, jadi dia adalah manusia yang sudah tua. Tapi Dr Rorke-Adam mengatakan, jika Anda melihat otaknya, Anda akan tahu bahwa otaknya terlihat muda,” kata Dhodhy seperti dikutip Livescience,

Meski publik mungkin tak langsung menyadari keunikan otak Einstein, otak ilmuwan jenius itu pantas untuk dilihat. Apalagi, Einstein adalah salah satu fenomena di abad 20. Hingga kini ia masih menjadi perbincangan di kalangan ilmuwan, terutama terkait penelitian neutrino.

Sumber : LIVESCIENCE
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: