Posted by: gunuk | 13/02/2012

Beasiswa 1.000 dollar AS Untuk Ni Made Sadgunasih

Tak ada mimpi dan harapan yang tak mungkin diwujudkan. Kata-kata ini sepertinya tepat untuk menggambarkan perjalanan Ni Made Sadgunasih dalam mewujudkan impiannya menjadi seorang bidan. Made adalah mahasiswi akademi kebidanan. Kerja keras dan keyakinan akhirnya bisa mengantarkan perempuan berusia 26 tahun ini untuk menempuh pendidikan tinggi. Di tengah keterbatasan perekonomian keluarga, apa yang dicapai Made merupakan sebuah hal yang patut dibanggakan.

Made  menceritakan kisahnya di tengah sukacita menerima beasiswa 1.000 dollar AS dari DKT Indonesia. Ia mengungkapkan, sejak kecil, menjadi bidan adalah cita-citanya. Setelah menamatkan SMA, mimpinya itu seakan sirna karena ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya di akademi kebidanan. Akhirnya, Made memutuskan untuk mencari pekerjaan. Berbagai jenis pekerjaan sudah ia lakoni, hingga terakhir ia bekerja sebagai pegawai di sebuah spa di Denpasar, Bali.

Namun, mimpinya kembali muncul. Ia tak menyerah. Sedikit demi sedikit, penghasilan yang diperoleh dikumpulkannya. Hingga akhirnya Made berhasil mencecap bangku kuliah dan mendapatkan beasiswa yang bisa meringankan bebannya membiayai kuliah. Sebagian beasiswa akan dimanfaatkannya untuk membuat usaha kecil-kecilan agar bisa mendukung biaya kuliahnya hingga akhir studi.


Kini, dengan harapan baru itu, ia mencoba meraih kembali mimpinya di akademi kebidanan. Mimpi menjadi bidan kini mendekati kenyataan. Sebuah mimpi yang dilatarbelakangi langkanya tenaga kesehatan di kampung halamannya.

“Di tempat tinggal saya tidak ada bidan, yang membantu kelahiran di sana hanya paroji dan parojinya itu biasa membantu lahiran kambing. Mirisnya, pisau yang digunakan untuk lahiran kambing itu juga yang ia gunakan untuk memotong tali pusat manusia. Dan itu yang terjadi pula pada kelahirannya,” kisah Made.

Ni Made Sadgunasih (26 tahun) tentu tidak bisa mengingat sendiri proses ia dilahirkan. Namun gadis kerturunan Bali yang tinggal di Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah ini ingat betul cerita orang-orang tentang sembilu yang dipakai oleh paraji atau dukun beranak untuk mengiris tali pusarnya.

“Iya, sembilu yang dari kulit bambu itu kan tajam banget. Biasanya untuk mengebiri babi, anjing, macam-macam. Katanya, tali pusar kami dulu dipotong pakai itu,” tutur bungsu dari 6 bersaudara itu saat ditemui usai penyerahan beasiswa dari Yayasan DKT di Hotel Harris Tebet, Kamis (2/2/2012).

Gadis yang tercatat sebagai mahasiswi Stikes Jend Ahmad Yani Bandung ini selalu merasa ngilu jika membayangkan proses kelahirannya. Paraji yang merupakan dukun laki-laki dengan sembilu di tangannya tentu sangat menyeramkan bagi ibu hamil yang sedang kesakitan saat melahirkan.

Belum lagi risiko infeksi yang dihadapi, mengingat tidak ada jaminan bahwa sembilu yang digunakan sudah steril dari kuman. Jika ada kuman yang masih menempel di permukaannya yang tidak rata, maka irisan sembilu itu bisa memicu infeksi dan kematian bagi bayi maupun ibu yang melahirkan.

Kisah tersebut memang sudah berlalu 26 tahun silam, namun sepertinya akan terus dikenang oleh Made seumur hidupnya. Keterbatasan layanan kesehatan membuat ibunya yang tinggal di daerah perkebunan itu harus bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia.

“Itu jadi salah satu alasan saya ingin jadi bidan. Waktu itu memang tidak ada bidan di desa saya, Desa Dharma Agung. Sekarang sudah ada, tetapi bidan dari desa tetangga. Pokoknya saya ingin, generasi saya adalah generasi terakhir yang lahirnya pakai sembilu,” kata Made berapi-api.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: