Posted by: gunuk | 21/03/2012

Upacara Melasti Ke Segara

Menjelang Hari Raya Nyepi, sebagian besar umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melis, Mekiyis atau melasti yang masih merupakan rangkaian upacara Nyepi. Dikatakan, upacara itu dilaksanakan oleh sebagian besar umat Hindu dan bukan seluruhnya, karena memang tradisi melis atau mekiyis ini sendiri tidak dilaksanakan secara serentak. Semuanya disesuaikan dengan adat tradisi yang berkembang dimasing-masing daerah.

Umat Hindu Dharma di Bali mulai menggelar prosesi ritual Melasti, yakni membersihkan pratima atau benda yang disakralkan, mengawali perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka yang jatuh pada hari

Tradisi dilanjutkan dengan mengambil tirta kamandanu atau air laut tempat melarung sesaji. Air yang dibawa dari tengah laut akan digunakan untuk membersihkan pura dalam kegiatan Catur Brata Nyepi atau kegiatan sehari sebelum upacara Nyepi.

Bagi umat Hindu, jika berbagai ritual ini dilaksanakan dengan penuh khidmat dan kesungguhan maka jiwa dan raga masing-masing umat Hindu akan suci sehingga dapat menjalani kehidupan di dunia dengan lurus dan tidak menyimpang dari berbagai aturan yang ditetapkan

Mulai pagi sampai sore hari dipastikan pantai-pantai yang ada di Bali akan dipenuhi oleh ribuan umat Hindu yang ngiring sesuhunan masing-masing. Selama ini dilingkungan umat Hindu, harus diakui masih banyak terjadi ketidak tepatan atau kurang mendalamnya pemahaman mengenai apa makna sesungguhnya dari upacara melasti ini. Sama dengan perayaan hari raya Hindu lainnya, umat nampaknya lebih banyak tersita waktunya kepada kesibukan untuk menyiapkan dan melaksanakan ritual daripada mencoba melakukan perenungan atas apa makna di balik ritual itu sendiri.

Menurut Drs. I Ketut Wiana, di kalangan umat Hindu sampai saat ini masih menyebut melasti hanya semata-mata sebatas upacara memandikan pretima atau simbol-simbol sakral belaka. Sesungguhnya, kata Wiana, sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi, melasti memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Dalam lontar Aji Swamandala disebutkan; ”Melasti Ngarania prawatek Dewata anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana”. Kalimat ini mengandung arti bahwa melasti dimaksudkan untuk menghayutkan penderitaan masyarakat (laraning jagat), meghilangkan penderitaan (papa klesa) dan kekotoran alam semesta (letuhing bhuwana). Hal ini diwujudkan dengan ngiring simbol-simbol sakral ke sumber-sumber mata air seperti laut, sungai atau danau. Sementara itu didalam Lontar Sunarigama disebutkan mengenai tujuan melasti yakni “amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara” yang artinya mengambil sari-sari kehidupan ditengah samudra.

Upacara melasti dilakukan oleh kelompok umat yang memiliki sungsungan pura. Simbol-simbol sakral seperti pretima atau pecanangan dari para dewata manifestasi Tuhan dipuja di suatu pura tersebut berkumpul dan di-stana-kan di Bale Agung Pura Desa adat bersangkutan. Pada saat yang telah ditentukan secara berpawai atau di Bali disebut mapeed, semua simbol-simbol sakral diusung menuju sumber air seperti laut, sungai maupun danau. Di sumber air itulah upacara puncak melasti dilangsungkan yang intinya berupa upacara menghaturkan Bhakti pada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna dan terakhir nunas tirta wangsuhpada sebagai simbol tirta Amerta Kamandalu yang didapatkan di tengah segara. Inilah inti dari upacara melasti yang memiliki makna lebih mendalam untuk mengarahkan manusia agar selalu mengembangkan keinginan-keinginan yang didasari hati yang mulia. Semua itu tidak lepas dari keberadaan tirta Kamandalu sebagai air suci untuk memenuhi keinginan yang mulia.

Upacara mapeed dalam melasti ini sendiri sesungguhnya memiliki makna tersendiri yakni menyucikan secara spiritual lingkungan desa tersebut. Penyucian ini dilakukan dengan menghadirkan pretima dan simbol-simbol suci lainnya. Kehadiran pretima ini diyakini menghadirkan vibrasi spiritual kepada umat disekitarnya. Terkait dengan hal ini, mungkin ada fenomena menarik yang terjadi dalam kurun waktu belakangan pada beberapa desa adat dimana mapeed dalam melasti tidak lagi terjadi. Untuk menuju pantai sebagai tempat melasti, umat ngiring sesuhunannya dengan menggunakan kendaraan truk. Berbagai alasan melatarbelakangi berubahnya tradisi ini. Mulai karena lokasi pantai yang dituju cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki, sampai dengan alasan kemacetan yang diakibatkan karena mapeed ini.

Sehari setelah melasti, disebut nyejer, dimana pretima atau pecanangan Ida Bathara sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa melinggih di Pura Desa, Bale Agung atau pura masing-masing. Nyejer berasal dari kata jejer yang artinya tegak tak tergoyahkan. Dalam rangkaian Nyejer ini sesungguhnya umat diajarkan untuk membangun sradha dan Bhakti yang tangguh atau jejer pada Tuhan. Dengan rasa Ketuhanan yang tangguh itu manusia akan diberikan kekuatan untuk mengendalikan hidupnya sehari-hari yang sering dihadang berbagai godaan. Kalau keyakinan pada Tuhan demikian tegak dan teguhnya maka godaan demi godaan akan dapat diatasi dengan baik dan benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: