Posted by: gunuk | 24/04/2012

Buddha Bamiyan (Afganistan)

Patung Buddha dari Bamiyan merupakan monumen yang terdiri dari dua patung Buddha yang berdiri dan diukir di sisi sebuah jurang di lembah Bamiyan dan berformasi mengelilingi sebuah desa, di tengah Afganistan. Lokasi patung berada kurang lebih 230 km arah barat laut Kabul pada ketinggian 2500 meter. Kemungkinan besar patung-patung ini dibuat pada abad ke-5 atau ke-6 saat penduduk afganistan masih memeluk agama Buddha sebelum masuknya Islam. ini adalah sebuah karya dan merupakan perpaduan klasik antara seni gaya Yunani dan seni Buddha.


Saat Buddha Bamiyan Dihancurkan

Pada tahun 2001 saat pemerintahan Taliban di Afganistan, patung ini dihancurkan dengan menggunakan dinamit gunung hingga runtuh, pada tahun 2008 dibuat sebuah tim dalam upaya membangun dan merekonstruksi kembali patung ini seperti sedia kala, namun sepertinya hal ini akan sangat sulit mengingat kerusakan yang ditimbulkan hanya menyisakan serpihan-serpihan kecil dari patung ini.

Banyak warga miskin Bamiyan mempunyai mimpi besar: jika patung-patung Buddha yang diledakkan oleh kelompok Taliban direnovasi kembali, turis kembali akan datang berbondong-bondong.

Bagaimana mungkin, turis datang ke wilayah yang sedang dilanda perang? Namun, warga Bamiyan yakin, hal itu akan terjadi. Kini yang paling penting, mengembalikan sekian banyak kepingan-kepingan patung, pada bentuk semula.

Batu Bernomor
Sisa-sisa patung Buddha yang diledakkan oleh kelompok Taliban masih berserakan di sana. Di muka dua gua besar di dinding gunung dan ribuan cokelan kapel, kini para arkeolog dengan hati-hati mengumpulkan semua pecahan patung yang berusia duaribu tahun tersebut di dalam tenda-tenda.

Terdapat deretan panjang pecahan batu bernomor. Di beberapa tenda lain, berjejer batu-batu yang belum bernomor. Beberapa waktu lalu, sepuluh tahun setelah dihancurkan oleh faksi garis keras Taliban, diskusi mengenai patung-patung ini kembali menghangat. Menurut beberapa arkeolog Jerman, warisan budaya dunia ini harus direstorasi kembali.

Dan keinginan tersebut didukung banyak pihak. Karena, orang tidak akan melupakan gambar-gambar di monitor televisi pada bulan Maret 2001, yang menayangkan saat peledakan patung tersebut.

Oase Kesejukan
Jawad Wafa, pemandu wisata dari Rah-e-Abrisham Tourist and Travel Agency menunjuk pada sebuah tenda berisi pecahan batu. Ia berdiri di muka sisa-sisa patung Buddha setinggi 58 meter.

Warga sekitar menamakan patung tersebut “Sang Pria”. Dan patung lain, yang agak lebih kecil, setinggi 38 meter, “Sang Wanita”. Jawad Wafa yakin, patung-patung tersebut akan direkonstruksi kembali. Karena, ini adalah warisan budaya dunia.

Tapi, sebenarnya ia yakin, karena berharap, jika dua patung besar tersebut kembali berdiri, turisme akan ramai lagi. Kedengarannya janggal, turisme di negeri seperti Aghanistan, yang sedang dilanda kemelut perang. Negeri yang menjadi berita, berkat berbagai serangan bom bunuh diri dan banyaknya ranjau di pinggir jalan.

Namun, wilayah di tengah-tengah Afghanistan tersebut – daerah tempat berdirinya dua patung Buddha memang berpemandangan sangat indah – keadaan justru sangat tenang. Di daerah kekuasaan kelompok Hazara ini, orang malah sudah tidak ingat lagi, kapan serangan bom terakhir pernah terjadi. Orang lebih banyak membicarakan masalah jambret jalanan yang disertai dengan kekerasan, atau mengenai hebatnya badai pasir belum lama ini.


Sekolah Ski
Berkat suasana tenang tersebut, sudah beberapa tahun ini ribuan warga Afghanistan datang berlibur ke Bamiyan, wilayah yang pada masa lalu menjadi bagian dari rute sutra. Mereka datang mengunjungi dua gua, yang kini kosong melompong.
Orang bisa juga mendatangi Taman Cagar Alam Nasional, Bande – e – Amir, dengan enam danau indah beserta kapal pesiar berbentuk angsanya. Atau ke Kota Merah, kota tua yang penuh dengan batu berwarna merah.

Namun, ambisi biro wisata tempat Jawad Wafa bekerja, jauh lebih luas lagi. Bamiyan dikelilingi oleh gunung-gunung bersalju. Kadang, datang beberapa orang asing, membawa perlengkapan ski sendiri, dan meluncur dari atas gunung ke bawah. Hal ini mendorong lahirnya gagasan baru pada Jawad Wafa dan kawan-kawan.

Tahun ini, mereka mendapat bantuan dana dari LSM setempat untuk mendatangkan pelatih ski dari Italia, guna mengajarkan cabang olahraga ini pada mereka. Dan sekarang, mereka sudah mempunyai sekolah ski sendiri. Dinding kantor mereka penuh dengan papan dan sepatu ski. Dan Jawad Wafa dan kawan-kawan, saat ini ke mana-mana selalu mengenakan jacket ski berwarna merah.

Sejak Januari lalu, 50 orang warga asing, sebagian besar orang-orang yang bekerja di Kabul, telah memanfa’atkan jasa mereka. Dan akhir Maret ini, Richard datang ke lokasi ini. Pria asal Australia ini sengaja datang, karena ingin bermain ski di Afghanistan.

“Semua saudara dan sahabat saya menentang rencana ini. Apa yang bisa kamu lakukan di negeri yang sedang dilanda perang itu? Namun, saya memang gila ski. Dan saya senang tujuan wisata unik. Saya tahu, tidak semua tempat di Afghanistan berbahaya.”

Pemain ski asal Afghanistan sendiri belum begitu banyak. Dan Jawad Wafa jujur mengakui, ia belum benar-benar menguasai seluk-beluk cabang olahraga ski.

Pesawat Boeing
Jika berbicara tentang turisme, Habiba Sarabi, seorang wanita, Gubernur Bamiyan, juga sangat bersemangat. Ia bermimpi, suatu ketika, akan dibangun bandara internasional yang mampu menampung pesawat sebesar type Boeing, penuh mengangkut wisatawan asal negara-negara Barat dan Jepang.

Sementara itu, kenyataan bahwa bandara kecil yang ada saat ini, tampak sangat terbengkalai, sama sekali tidak menganggunya. “Kami di sini butuh aliran listrik dan turisme.”

Sang gubernur juga mengharapkan patung Buddha segera direnovasi kembali, katanya di kantor pemerintah daerah. Ia tahu, bahwa UNESCO pernah menyimpulkan, nyaris mustahil memulihkan dua patung tersebut, kembali, sebagaimana keadaan semula. Namun, badan PBB ini juga menyatakan, bersedia melakukan penelitian baru. Jika pemerintah Afghanistan menghendakinya.

“Dua hari setelah pertemuan tersebut, kami mengirim permintaan resmi, untuk merestorasi dua patung tersebut.” Dan pemandu wisata, Jawad Wafa sudah tidak sabar lagi. Bayangkan saja, apa dampaknya nanti bagi Bamiyan jika dua patung tersebut berdiri kembali, katanya sambil tertawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: